Sederhana namun kaya akan arti. Rasulallah Saw katakan alasan wanita dinikahi karena empat; kecantikan (rupa), karena harta (kebendaan), dan nasab (keturunan). Namun Rasulullah Saw menyarankan agar memilih yang keempat, yakni karena agama (Hr. Bukhari dari Musaddad, Yahya, Ubaidillah, Said bin Abi Said, dan Abu Hurairah rhum). Agama penting. Sangat penting dari apa pun juga. Sayangnya beliau tidak merinci wanita yang dinikahi karena agama, apakah karena “pengetahuan agama (ilmu)” atau “pemahaman agama (iman).” Karena, maaf, orang yang lulusan ponpes pasti “tau agama” namun belum tentu “paham agama.” Sama seperti lelaki yang sholatnya selalu di rumah saja (tau agama), dengan yang lebih sering berjamaah di masjid (paham agama).
Inilah yang dimaksud dengan kaya arti. Rasul Saw menyuruh untuk memilih agama pada seseorang dari pada 3 kepentingan lain. Secara tersembunyi, beliau mengajak agar membangun cinta kepada Allah atau cinta yang didasarkan pada agama, dalam memilih pasangan.
Nah, orang yang dekat dengan Allah Swt, selalu membuat pola hubungan yang semuanya bermuara pada Allah Swt saja. Baik yang sederhana maupun rumit. Misalnya seorang yang tetap berjihad hingga tetes darah penghabisan (karena Allah) meski teman-temannya sudah tewas; lalu lelaki yang tetap berdiri pada waktu malam (munajat) meski sudah dianugerahi istri yang cantik yang tertidur pulas di kasur yang empuk; kemudian seseorang yang sedang lelah karena perjalanan namun tetap berdiri waktu sholat walau tenaganya sudah habis (perlu istirahat). (HR. Tabhrani dari Abu Darda ra). Sebuah pola yang cukup rumit untuk menegaskan Allah Swt segala-galanya, bahkan rela bersusah payah demi meraih cinta pada Allah Swt saja.
Sudahkah menamatkan kitab Raudhatul muhibbiin karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, yang diterjemahkan menjadi “taman orang-orang yang jatuh cinta dan memendam rindu”? Salah satu bahasannya pertama, mengenai orang yang jatuh cinta karena Allah Swt. Dan kedua, mencintai apa yang ada disisi Allah. Penulis akan memperkaya dengan beberapa model dari cinta ini dari sudut pandang yang berbeda.
Mencintai Apa Yang Ada di sisi Allah Swt
Misalnya para seorang wanita yang dilamar pria pilihan ayahnya yang pria ini dianggap soleh apa pun keadaannya. Wanita ini sadar, kalau ayahnya selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya. Wanita ini mau menerima dengan sikap mencintai karena Allah Swt. Ia tidak banyak kompromi dengan sesuatu karena yakin, cinta yang dibangun dengan dasar ketaatan. Pria soleh pasti mencintai Allah Swt, dan wanita itu pun mau menerimanya atas dasar sama-sama mencintai apa yang ada di sisi Allah Swt.
Begitu juga seorang pria. Ia tertarik dengan wanita yang akan dilamar, karena wanita ini berpurdah atau cadar (ikut sunnah). Ia yakin, dengan pasangan yang solehah akan menjadi bibit untuk anak-anaknya yang nanti lahir dari “rahim yang tepat.” Cinta ini dibangun karena ketaatan pada perintah Allah Swt. Namun, setelah rumah tangga dijalani, perempuan ini ternyata banyak tidak jujur sewaktu dilamar waktu dahulu. Ia menyembunyikan “penyakit jasmani.” Lalu pria itu mulai was-was. Sehingga pria ini diuji kembali cintanya. Apakah ia terus mempertahankan rumah tangga (mencintai karena Allah), atau malah sebaliknya. Karena merasa tertipu, suami tidak tahan, dan malah menceraikannya demi kebaikan bersama. Mencintai apa yang ada di sisi Allah memang masih agak rentan. Ada tahapan yang lebih tinggi dari karakter cinta ini, yaitu mencintai karena Allah.
Cinta Karena Allah Swt
Sedangkan cinta atau mencintai karena Allah Swt, lebih luas dari sekedar yang pertama. Cinta karena Allah Swt, atau mencintai karena Allah Swt adalah sikap yang utuh dari sekedar cinta yang biasanya. Cintanya disadarkan kepada Allah Swt, tidak tergoda dengan hal-hal nyata (yang terlihat). Sungai cintanya terus bermuara pada Sang Pencipta.
Model cinta ini, adalah seperti cintanya Nabi Ayub as. Ketika istrinya yang setia telah merawatnya hingga 7 tahun, lalu pergi karena tidak sabar, maka Nabi Ayyub as berniat akan menghukumnya dengan 100 kali pukulan. Namun, setelah datang wahyu agar Ayyub as lakukan pukulan dengan segenggam rumput (riwayat lain mengatakan lidi) yang berjumlah 100, Ayyub as patuhi perintah Allah Swt. Kepatuhan pada perintah ini, menurut Ibn al-Qoyyum, sebagai mencintai karena Allah Swt.
Sehingga jelaslah perbedaan tipis antara mencintai karena Allah dengan mencintai apa yang ada di sisi Allah. Kalau Ayyub as saat itu bukan hanya memukul, tapi malah menceraikan istrinya karena dianggap durhaka, maka cinta Nabi Ayyub as berubah menjadi mencintai apa yang ada Allah Swt saja. Ada sedikit pelanggaran. Ia terkesan dengan klausul (asbab), sehingga hawa nafsunya mengalahkan ketaatan pada Allah Swt. Bahkan bisa lebih rendah lagi.
Ciri lain, orang yang mencintai karena Allah Swt adalah mau taat pada segala perintah Allah Swt. Apa pun bentuk perintahnya. Walau pun bertentangan dengan hati nurani, ego dirinya mampu dilawan demi taat pada Allah Swt. Dunia tidak mampu membungkam orang-orang yang berpegang teguh pada sunah, karena sunnah sudah diyakini sebagai jalan hidup yang penuh keselamatan. Prinsip ini yang dicirikan sebagai mencintai karena Allah Swt.
Yusuf as, yang menurut pengarang kitab juga berhasrat kepada istrinya Kitfir (kebanyakan orang bilang Zulaikha), namun dapat menahan perempuan yang rupawan itu. Sikap sabar Nabi Yusuf as yang tahan godaan, digambarkan sebagai “mencintai apa yang ada disisi Allah.” Yusuf as sadar, banyak yang didapat dari kepuasan dunia jika saat itu “tergoda” dari bujukan. Namun ia memilih meninggalkan kesenangan dengan melihat Allah Swt sebagai tujuan (istilah tasawuf: burhani), sehingga dengan “burhan” melihat jelas hal itu hanya sebagai godaan (Qs. Yusuf : 24).
Contoh lain dari sikap ini, seperti beberapa perempuan yang rela dipoligami. Ia sadar akan disebut sebagai “ummi,” padahal Si lelaki sudah punya sebutan “mama” sebagai istri pertama, sebutan “bunda” sebagai istri kedua, dan sebutan “ibu” untuk istri ketiganya. Cinta yang dibangun lagi-lagi karena mencintai karena Allah Swt. Dipatuhi, selama suami perintah suami tidak bertentangan dengan perintah Allah Swt dan Rasul-Nya. Jika suami malah durhaka pada Allah, dianggap tidak adil dalam nafkah, sang istri meminta pisah (ba’in, khuluk) berarti cinta sang istri berubah dari mencintai karena Allah Swt, menjadi mencintai apa yang ada di sisi Allah Swt saja.
Seorang istri yang sabar karena suaminya perokok, bahkan pemabuk. Ketabahan istri ini didasarkan karena cinta yang begitu kuat pada Allah Swt. Namun, jika ketabahan ini hanya didasarkan pada kecintaan makhluk, tanpa menunggu waktu lama Sang istri akan meninggalkan suami yang dimaksud. Karena harapan-harapan pada makhluk perlahan akan pudar dan musnah.
Rasulallah saw pernah mencari dimanakah saudara-saudaranya. Para sabahat bertanya, bukankah mereka semua termasuk “saudara” atau “bersaudara” karena hubungan nasab. Bukan. Yang Rasul saw maksudkan adalah umat akhir zaman yang memegang teguh ajaran dari beliau, tapi tidak pernah berjumpa dengan beliau (istilah tasawuf: irfani). Cinta Rasulullah Saw kepada umatnya adalah cinta karena Allah Swt. Beliau belum pernah berjumpa, tapi menyebut umat muslim akhir zaman dengan sebutan yang lebih dekat, yakni “saudara” dari Rasulullah Saw.
Lelaki yang meninggalkan dagangan/perniagaan, atau pekerjaan, sejenak hanya demi untuk shalat tepat pada waktunya (juga dengan cara berjamaah), merupakan salah satu bukti ibadah yang didasarkan cinta karena Allah. Tidak terkesan dengan hiruk-pikuk dunia. (Qs. An-Nuur : 37).
Ringkasnya mencintai karena Allah Swt perlu ada proses. Iman yang kokoh sebagai pondasi ke arah ini. Karena orang-orang yang beriman yang sangat besar cintanya pada Allah swt. (Qs. Al-Baqarah : 165).
Wallahu a’lam.

0 komentar: